Tuesday, December 19, 2006

waktu terasa begitu lama

yup... ini memang minggu terakhir saya bekerja di perusahaan ini. Mungkin banyak yang tanya kenapa saya resign? hmm... banyak alasan, ok mungkin ini sepenggal alasan saya:
  • Ingin cari ilmu lain dengan jalan kuliah lagi ambil master untuk jurusan komunikasi. "Loh kamukan orang IT?". Dulu memang saya ingin kuliah ambil komunikasi, hanya saja tidak keturutan. Ini saatnya saya ambil jurusan itu.
  • Ingin jadi orang yang tough. Sudah saatnya untuk berusaha menjadi orang yang membayar, bukan orang yang dibayar.
  • Banyak hal yang saya alami ketika kerja kantoran, salah satunya saya tidak bisa lagi untuk berimajinasi lagi. Mental menjadi lembeng, kemana-mana ikut aturan yang baku (kalau orang jawa bilang manut ae).
  • Hidup benar-benar jadi statis. Bangun tidur punya waktu sebentar untuk update otak lewat berita televisi setelah itu berangkat ke kantor, pulang pagi dan membaca koran basi (koran kemarin) sebagai penuntun waktu tidur.
  • Weekend time, seharian penuh waktu dihabiskan untuk baca buku dan tidur.
Itulah sebagian alasan saya resign dari perusahaan ini, suatu saat saya akan kangen dengan suasana di perusahaan ini seperti: ketika ada bug pada kerjaan kami yang harus diselesaikan secepat mungkin, ketika ada komplain dari customer, ketika liburan bersama (ssst saya emang tidak bisa berenang), dan ketika ada rumor masalah bonus keluar.

Moral op de setori (nyomot omongan oom einstein):
Tak ada tanda yang lebih pasti tentang ketidak-warasan selain mengerjakan hal yg sama berulang-ulang dan mengharapkan hasilnya berbeda-beda.

15 comments:

ferdhie said...

wah, kok utem ... ndak seru iki
btw, opo udu perkoro DOM ??

#penyu: Tak ada tanda yang lebih pasti tentang ketidak-warasan selain mengerjakan hal yg sama berulang-ulang dan mengharapkan hasilnya berbeda-beda.

kalau berdoa, ??? ups ...

isdah said...

#ferdhie
salah satunya... xixixixixi...

jay said...

DOM kuwi opo to??

anak jalanan said...

makan2 dulu yuuuuuk ngabisin jatah gaji traker neeeeeh...

Aryo Sanjaya said...

Tidak ada yang salah dengan kejadian yang berulang-ulang.

Matahari tiap hari selalu disiplin, tidak pernah telat tayang dan tidak pernah kelamaan tayang (kecuali adanya deviasi yang cuma beberapa mili detik).
Kalo perulangan itu salah, kacau deh.

Yang penting bukan perulangannya, tapi bagaimana hal itu disikapi.

Pergi pagi pulang petang kalo diniati cari uang, dapetnya ya uang aja.
Tapi kalo diniati sebagai perjalanan seorang khalifah di bumi, akan lain artinya.

Proses boleh berulang, tapi content haruslah meningkat!

Jrithh, kok jadi serius?
*lempar kursi ke Isdah*

isdah said...

#aryo: semua itu berjalan sesuai dengan takarannya. walaupun proses berulang masih dibutuhkan sebuah noise untuk mengubah hasil...

tul gag?

Mas Setiawan said...

Dah, jadi kuliah di Jakarta? ;;)

Home Of Dreams said...

Salut to U Isdah....tak banyak orang yang berani mengambil keputusan kontroversi hehehe, SEMOGA SUKSES

Anne said...

aku akan jadi satu-satunya orang yang tidak akan merindukan isdah (pungguk)

isdah said...

#shinta:
koq didoain ke jkt? hmm... terserah deh yang penting ilmunya

isdah said...

#erline:
ayo kapan nyusul? mumpung ada kesempatan loh...

#butet:
tet... ta santet loh koen... *ngumped* dijak selingkuh gag wani ngunu...

Miftah Faridh Oktofani, S.Kom said...

Wah dah aku pernah mengalami itu. Tapi bingung curhatnya gimana. Cuma penjabarannya kurang lebih sama. hehe g'luck ya!

arie said...

hai isdah
kowe ning endi matanehhhh

Donnykris said...

Sireng...
Salut buat keputusannya yg berani keluar. yuk sama2 sama jd org yg "membayar" bukan "dibayar".. Insya Allah dengan "membayar (Tangan Di Atas) lebih mulia dari "dibayar" (Tangan Di Bawah).

<- Anda tidak perlu hebat untuk memulai. Tetapi anda harus memulai untuk menjadi hebat ->

oeya said...

WElcomE to Uncomfortable Zone!!!tp kpn dinastinya kebentuk klo kmu sekolah trus?????