Monday, April 30, 2007

SIM keliling ala GTA

Pernah memainkan game dengan judul GTA (Grand Theft Auto)? Pada awalnya game ini disajikan dalam bentuk 2D pada platform PC (Personal Computer) dengan genre shooting. Seiring perkembangan hardware dengan kemampuan lebih GTA kembali di-release dalam bentuk 3D pada platform PC dan Console. Setelah di-release dengan bentuk 3D dengan enviroment dan gameplay yang berbeda, GTA mengenalkan genre baru pada para gamer bisa dibilang revolusioner. Shooting, racing, dan simulation game semua tersaji dengan unik pada GTA. Karena populernya GTA, aku ingat kejadian di San Francisco ketika gamer yang maniak GTA jalan-jalan di tengah kota sambil menembak membabi buta. Bahkan di sebagian film action ada yang melakukan aksi seperti yang ada di game ini sambil berkata "GTA M****R F****R".



Kembali ke masalah utama, rupanya Kepolisian RI memberikan pelayanan lebih kepada para pengguna kendaraan bermotor. Baru-baru ini di kota Malang hadir SIM keliling, sebuah layanan untuk memperbarui/memperpanjang SIM (Surat Ijin Mengemudi) secara mobile. Namun sayang lokasi untuk layanan ini mirip dengan misi yang ada di GTA, informasi yang diberikan hanya berupa nama daerah saja seperti daerah Blimbing. Detail tempatnya? cari sendiri :))

Senin, 23 April 2007
SIM keliling diadakan di daerah Blimbing. Aku berangkat pukul 10.15 untuk mencari lokasi layanan SIM keliling itu, setiap pojokan daerah Blimbing aku kunjungi demi memperbarui SIM-ku yang sudah habis masa berlakunya. Ada beberapa hal yang aku takutkan dalam pencarian lokasi itu seperti jebakan rasia motor di jalan protokol, namun hal itu terlupakan dengan sengatan sinar matahari akibat dari global warming.

Putus asa tidak menemukan lokasi itu aku langsung bergegas pulang untuk mendinginkan badan. Sampai di daerah Oro-oro Dowo baru teringat kalau aku belum mengunjungi PBI (Pondok Blimbing Indah). *lirik jam di hengpon* Jam sudah menunjukan pukul 11.45, aku langsung bergegas menuju PBI dan *voila* lokasi SIM keliling itu ketemu di tempat rimbun parkiran luar PBI. Aku parkir skuter-ku dan langsung menuju loket pendaftaran, tapi polwan itu berkata "Mas, terlambat 10 menit. Kami sudah tutup!". Whaaaat??? Aku pulang melalui daerah rampal yang konon tidak pernah ada rasia motor karena itu daerah komplek militer.

Senin, 30 April 2007
Sim keliling diadakan di daerah Sukun. Aku berangkat pukul 9.10 dengan rasa kantuk yang teramat sangat dikarenakan dalam dua hari aku masih tidur selama satu jam. Seperti minggu sebelumnya demi memperpanjang SIM-ku aku rela keliling daerah Sukun. Berdasarkan pengalaman sebelumnya aku mulai menjelajahi perumahan di daerah Sukun. Sampai pukul 10.50 aku masih tidak dapat menemukan antrian motor, kesibukan orang untuk mengisi formulir dan obrolan di kala menunggu panggilan untuk foto dan scanning sidik jari. Putus asa? tentu tidak, aku langsung mendatangi POLRES Malang untuk mengurus perpanjangan SIM.

How To?
Berbeda dengan lima tahun lalu ketika aku perpanjangan SIM untuk pertama kali. Urusan calo tentu masih tetap ada tetapi tidak seagresif dulu dan suasana untuk mendapatkan SIM secara mudah benar-benar terasa. Aku datang langsung ke loket untuk bertanya cara mengurus perpanjangan SIM, dan seorang POLWAN menjelaskannya dengan detail.

Ini sedikit informasi untuk perpanjangan SIM: *dengan backsound what a wonderfull world*

  • Datang ke klinik di atas untuk pemeriksaan kesehatan. (Bayar Rp.10.000,-)

  • Masuk ruang 1 untuk sidik jari. (Bayar Rp.5.000,-)

  • Masuk ruang 2 untuk membayar administrasi sebesar Rp.75.000,-

  • Lanjut ke ruang 3 untuk memberikan semua berkas dari layer sebelumnya.

  • Pengambilan foto dan scanning sidik jari.

  • Menunggu dipanggil untuk mendapatkan SIM baru.

  • Selesai dan sekian.


PLAK!!!PLAK!!! itu tidak terjadi padaku. Dikarenakan SIM-ku sudah habis masa berlakunya lebih dari sebulan, maka dengan santai POLWAN mengatakan bahwa aku HARUS mengikuti ujian. Dari ruang 3 aku harus lanjut ke ruang 5 untuk mengikuti ujian teori. aah pis-a-ke', 30 nomer soal ujian aku lahap habis dalam hitungan 8 menit. Setelah diperiksa ternyata aku hanya salah satu, dan polisi itu memberikan pujian *tepuk dada*. Polisi yang memberikan pujian menyuruh aku ke parkiran atas untuk mengikuti ujian praktek. *DEG*

Datang ke parkiran atas dengan Pe De-nya, aku langsung memberikan lembaran registrasi untuk mengikuti ujian praktek. Polisi penguji menjelaskan beberapa peraturan yang ada seperti ini:

  • Ujian dilakukan dengan menggunakan motor yang telah disediakan oleh Kepolisian. (motor bebek buntut putih warnanya)

  • Peserta ujian harus mengendarai motor secara zig-zag melewati tiang yang ada.

  • Setelah melewati ujian zig-zag, perserta diharuskan mengendarai motor melalui garis putih dengan bentuk angka 8.

  • Selama mengendari motor, kaki tidak boleh turun dan menyentuh garis penghalang.

  • Motor tidak boleh keluar dari jalur yang disediakan.


Polisi itu bertanya "Mas-nya mau latihan dulu dengan motor mas?", dan aku jawab "Waduh Pak, saya gag punya motor punya'nya skuter dan itu montok dan semoks. Gag cocok buat rintangan seperti ini". Polisi itu kemudian memberikan contoh untuk melalui rintangan eiiit... polisi itu tidak menaiki motor untuk memberikan contoh, tapi dengan menggunakan telunjuknya menunjukan arah yang harus dilalui.

Polisi itu bertanya untuk terakhir kalinya "Mas, kalau sudah siap silahkan". Dan seperti biasanya aku terlalu Pe De dan langsung menjajal ujian tersebut. Motor aku nyalakan, aku memeriksa jarak rem, jarak gas, dan jarak perpindahan gigi. PRIIIT!!! tanda bahwa aku harus melaju dengan motor bebek buntut itu, tiang pertama lancar dan aku merasakan bisa melalui ujian ini. PRIIIT!!! "Dua minggu lage ujian ulang mas" teriak pulisi dari kejauhan. Ternyata aku gagal :( kenapa? bukannya lancar? waktu di belokan tiang kedua karena faktor berat badan dan faktor balancing terutama, aku menurunkan kaki kiriku *ngakak*. Aku meminta untuk mencoba sekali lagi, tapi polisi itu tetap pada pendiriannya. *dem*

Beberapa saat kemudian datang seorang tentara yang akan mengikuti ujian praktek. Tentara itu mendekati polisi sambil mengatakan kalau dia ingin tidak melewati ujian praktek. Loh? Tapi polisi itu menjawab dengan enteng sambil tersenyum "Wah... gag bisa pak peraturannya begitu, semua harus mengikuti ujian ini" *kasih tepuk*. Kalau seumpama tentara itu dapat SIM tanpa melalui ujian praktek tapi melalui hasil nego dengan polisi, aku juga mau melakukan itu. Aku mau melewati ujian praktek hanya dengan menggunakan script *halah*.

Aku turun menuju loket tiga untuk mengatakan bahwa aku gagal melakukan ujian praktek dan harus mengulang dua minggu lagi pada tanggal 14 Mei 2007. Di loket 3 ada seorang POLWAN cantik menahan ketawa ketika aku mengatakan kalau gagal ujian praktek SIM, dan dia bertanya kapan aku mengulang ujian itu. Setelah aku jawab, dia masih menahan rasa ketawa kalau orang seperti aku bisa gagal dalam ujian itu. *ikutan ngakak*

Semoga dua minggu lagi aku mendapatkan SIM-ku kembali. *aamiin*

*siap-siap sneaking ketika naek skuter*