Berbeda dengan muka
Aryo yang mendapat tanggapan simpati dari orang yang memandangnya. Mukaku lebih cenderung memberikan peran tokoh jahat di film, komik, maupun di buku-buku novel.
Aku ingat beberapa bulan sebelumnya temenku Sari mengatakan ke Ayuk bahwa aku memiliki karakter dengan perbuatan tidak menyenangkan. Entah kenapa Sari membuat kesimpulan itu, dia bahkan belum mengenal aku di waktu itu. Kalau berhubungan dengan masalah muka, kalimat "Don't judge the book by the cover" bagi sebagian orang tidak berlaku lagi.
Suatu hari aku melihat film dokumenter mengenai cara kerja otak dalam mengenal prilaku manusia, di situ mereka memberikan contoh ketika perekrutan juri pada persidangan di sebuah daerah di negara Amerika. Juri tersebut disuruh menebak orang yang menjadi pembunuh pada suatu cerita. Juri tersebut diberikan beberapa contoh orang dengan muka yang berbeda-beda, dari muka yang mirip bayi sampai dengan muka yang benar-benar mirip penjahat. Para calon juri tersebut memberikan beberapa gambaran apa yang mereka dapat ketika melihat muka orang satu persatu. Tanggapan para juri beragam dan yang paling menari mereka tidak menaruh curiga pada muka yang mirip muka bayi, mereka beranggapan bahwa orang dengan muka itu tidak mungkin melakukan tindakan kriminal.
Berhubungan dengan postingan sebelumnya. Ketika aku mengikuti pemeriksaan kesehatan di klinik, aku disuruh membayar sebesar Rp.10.000,-. Aku tidak memiliki uang dengan pecahan itu, yang ada hanya Rp.50.000,-. Klinik tidak memiliki uang kembalian, dan aku harus memecahkan uangku terlebih dahulu. Hal yang menarik di sini waktu aku keluar menjajaki toko satu persatu untuk menukar uang Rp.50.000,- dengan pecahan Rp.10.000,-, semua toko menolak menukar uang mereka. Tetapi ketika ada seorang wanita anggun ke salah satu toko tersebut untuk menukar uang yang sama dengan aku mereka tidak menolaknya. Wanita anggun itu memiliki masalah yang sama dengan aku yaitu dia sedang mengurus SIM dan setelah pemeriksaan kesehatan, klinik tidak memiliki uang kembalian. Dalam hatiku ingin menghujat dan memberikan uangku ke toko itu, toko itu belum tahu kalau aku calon pengusaha sukses *memotivasi diri* tapi sudahlah... Kita lihat dari sisi lain saja bahwa mungkin si punya toko baru ingat kalau dia punya uang pecahan untuk Rp.50.000,- dan wanita anggun tersebut sedang beruntung.
Dan akhirnya ketika kembali ke klinik untuk yang keempat kalinya. Klinik tersebut sudah memiliki uang kembalian untuk uang Rp.50.000,-.
Ini skrinsyut mukaku dengan ekspresi serial killer. :))